No Title

Tanpa Judul

Archive for the ‘Jon Koplo Soloraya’ Category

Open blek

Posted by d3nba6u53 pada November 12, 2008

Acara open house yang digelar saat Lebaran lalu benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh tiga sekawan Jon Koplo, Tom Gembus dan Gendhuk Nicole.

Misi mereka berkunjung ke rumah tetangga selain bermaafan juga menjadikan ”wisata kuliner” dengan mencicipi kue-kue lezat yang dihidangkan oleh tuan rumah.
”Pokokmen begitu Salat Id selesai, kita langsung kumpul, jangan sampai kedhisikan yang lain,” tukas Tom Gembus.
”Yes, minimal kita masih komanan roti sing mak nyus,” imbuh Jon Koplo.
Sasaran pertama yang mereka tuju adalah rumah Lady Cempluk, janda kaya yang terkenal dermawan. Seperti biasa, setelah bersalam-salaman Cempluk mempersilakan mereka menikmati hidangan yang telah disediakan. Namun Koplo cs masih sok malu-malu kucing, anteng tapi matanya plirak-plirik mengincar sasaran. Dan vokus penglihatan mereka tertuju pada blek roti warna hijau kinyis-kinyis bertuliskan bahasa Inggris. ”Wah pasti roti buatan luar negeri,” pikir mereka.
Begitu Lady Cempluk ke belakang mengambil minuman untuk mereka, tanpa dikomando, Jon Koplo dan Tom Gembus pun balapan meraih target sasaran. Layaknya sebuah team work yang baik, Koplo dan Tom Gembus bahu membahu membuka blek warna hijau tersebut, sementara Nicole asyik menikmati castengel dan kue nastar.
Begitu blek terbuka, badalaaa… ternyata isinya bukan kue lezat seperti yang ada pada gambar kalengnya, melainkan sekelompok butiran hitam dengan aroma yang khas. ”We lhadalah, iki rak godril?!” tukas mereka.
Bersamaan dengan itu mak bedunduk, Lady Cempluk keluar sambil membawa minuman, ”Ayo, jangan malu-malu, silakan dimakan! Dihabiskan juga boleh,” katanya. Persis seperti maling ketangkap basah, Jon Koplo dan Tom Gembus mau tidak mau harus menyantap godril yang ada di blek ijo itu sambil cengingisan.
Setelah minum, mereka pun buru-buru berpamitan karena tak kuat menahan tawa.
”Makanya, segala sesuatu itu jangan hanya dinilai dari luarnya saja,” ejek Nicole sambil ngakak.

from : http://www.solopos.co.id

Iklan

Posted in Jon Koplo Soloraya | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Gara-gara katrok

Posted by d3nba6u53 pada September 16, 2008

Meski namanya Jon Koplo, mahasiswa jurusan Pendidikan Sejarah universitas markotop di Solo ini termasuk cah pinter, karena hobinya baca buku.

Lain halnya dengan Tom Gembus, teman satu kosnya yang kuliah di Teknik Sipil. Gembus suka celelekan, sembrono dan hobinya chatingan.
Saat heregistrasi mahasiswa lewat Internet, keduanya pergi ke sebuah Warnet yang sama. Setelah melakukan registrasi, Gembus meng-SMS Koplo mengajak pulang. Namun Koplo menjawab SMS Gembus bahwasannya ia mau mempraktikkan pelajaran chating yang barusan ia dapatkan dari Tom Gembus.
Gembus pun tiba-tiba berubah pikiran. Ia punya ide nakal untuk mengerjai Koplo. Dengan jurus bunglonnya ia menjadi lawan chating Koplo dengan mengaku anak Sastra Inggris bernama Lady Cempluk.
Jon Koplo mulai serius karena ia sudah mendapat lawan chating yang tak lain adalah Tom Gembus sendiri. Dengan lugu Koplo memperkenalkan dirinya dengan jelas, lengkap, dan detail berisi data tentang dirinya.
Gembus pun dalam hati ngekek-ngekek melihat pengakuan temannya yang super katrok itu. Ia pun langsung mengeluarkan manuver kata-kata rayuan pada Jon Koplo.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Jon Koplo Soloraya | Leave a Comment »

Tiwas takon…

Posted by d3nba6u53 pada April 10, 2008

Kisah ngisin-isini ini berawal ketika pada suatu hari Jon Koplo, seorang siswa SMA di Solo mengantarkan saudaranya, Gendhuk Nicole, ke rumah Lady Cempluk di daerah Jebres. Karena Jon Koplo tidak begitu mudheng daerah situ, maka Lady Cempluk memberikan ancer-ancer Hotel Asia dan akan menemui di depan SMP 16.

Berkat selembar peta orek-orekan itulah Jon Koplo dan Gendhuk Nicole berhasil sampai di dekat Hotel Asia. Karena tergolong cah rada katrok, sampai di perempatan Panggung mereka kebingungan mau ke arah mana.
Agar tidak keblasuk, Koplo berinisiatif untuk bertanya pada polisi yang ngepos di seberang jalan. Tanpa pikir panjang mereka segera menyebrang dan menghampiri polisi itu.
”Permisi Pak, mau numpang tanya…” sapa Koplo dengan ramah. ”Kalau mau ke SMP 16 itu dari perempatan ini ke arah mana ya, Pak?” lanjutnya.
Mendengar pertanyaan itu, Pak Polisi yang bernama Tom Gembus itu tidak segera menjawab tapi malah mesam-mesem sajak ngece. Nicole pun merasakan ada sesuatu yang ganjil. Ia lalu melihat sekelilingnya. Tiba-tiba dari belakang Nicole nyenggol tangan Koplo dan memberi isyarat agar melihat atasnya.
Setelah Koplo ndhangak… Badalaaa…! seketika itu juga muka Koplo berubah jadi abang ireng saking malunya. Sebelum polisi itu menjawab, Koplo dan Nicole buru-buru mohon diri dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Mereka pun mbatin, pantas saja seorang polisi ditanya bukannya njawab malah mesam-mesem, ternyata persis di belakang mereka sudah ada jawabannya, yaitu sebuah papan besar bertuliskan ”SMP 16 Surakarta”. Ha… ha… ha… – Kiriman Diyanti, MA Al Islam Jamsaren, Jl Veteran No 263, Solo

from www.solopos.co.id

Posted in Jon Koplo Soloraya | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Ciduknya mana?

Posted by d3nba6u53 pada April 5, 2008


Pembaca tentu tahu Mesjid Fatimah di Solo, bukan? Mesjid yang dibangun pengusaha batik terkenal ini konon merupakan mesjid termegah di Kota Solo.
Betapa tidak, mesjid ini didesain layaknya bangunan hotel berbintang. Mulai dari fasilitas AC sampai dengan arsitektur toilet yang uelok tenan.
Kisah ini bermula ketika dua orang sahabat karib, sebut saja Jon Koplo dan Tom Gembus yang tinggal di Kebakkramat, Karanganyar kebetulan habis klintong-klintong keliling Kota Solo.
Waktu menjelang Magrib, keduanya sepakat melaksanakan salat Magrib di mesjid tersebut. Begitu datang, mereka tidak langsung mengambil air wudu melainkan menuju kamar mandi untuk buang hajat.
”Plong rasane…” kata Tom Gembus setelah keluar dari kamar mandi.
Berbeda dengan Tom Gembus, Jon Koplo bukannya langsung buang hajat melainkan hanya keluar-masuk dari satu kamar mandi ke kamar mandi lainnya.
”Plo, cepet sithik, selak telat iki,” tegur Gembus.
”Sik ta… Iki lho, kamar mandi pirang-pirang kok ora ana cidhuke kabeh. Terus nek meh wawik piye horok? Mesjid apike kaya ngene kok ora nduwe cidhuk…” kata Jon Koplo dengan polosnya.
”Jabang bayik! Kowe mlebu-metu kamar mandi mau bul nggoleki cidhuk ta? Di sini memang nggak model kamar mandi pakai cidhuk, kaya neng ndesane dhewe… Ayo mlebu-a rene, tak ajari carane…” kata Tom Gembus sajak ngampet ngguyu. ”Ngene lho cah bagus, tutup dibuka dulu, terus kamu duduk manis di sini. Nanti kalau selesai buang hajat, tombol ini dipencet, nanti air sudah nyentor sendiri. Terus wawik-nya pakai ini… Tekan alat ini, dan airnya akan muncrat sendiri…” terang Gembus memberi kursus kilat cara buang air di WC model duduk.
”Ssst… Mbus, aja benter-banter! Nek krungu uwong ndhak ditulis neng Ah Tenane…” bisik Jon Koplo. – Kiriman Muflih Muhammad Diah, Dibal RT 01/RW V, Ngemplak, Boyolali.

Posted in Jon Koplo Soloraya | Leave a Comment »

Silakan duduk…

Posted by d3nba6u53 pada April 4, 2008

Setelah satu bulan belajar membuat martabak dan terang bulan sama pakdenya, Tom Gembus, Jon Koplo yang tingal di Kartasura ini telah membuka usaha baru dengan berjualan martabak dan terang bulan sendiri di pinggir jalan raya tak jauh dari rumahnya.
Hari pertama Koplo jualan, pembeli yang datang cuma sedikit.
Begitu juga dengan hari kedua. Tapi Jon Koplo tetap gembira karena ia bisa melayani pembelinya dengan sukses.
Nah, di hari ketiga, pertanda baik mulai datang. Saat Jon Koplo baru datang dan belum selesai tata-tata peralatannya, ada tiga calon pembeli datang ke gerobaknya. Maka, Jon Koplo pun menghentikan tata-tata-nya dan memfokuskan diri ke pembuatan pesanan masing-masing pembeli itu.
”Mangga Pak, Bu, pinarak lenggah rumiyin!” ucap Jon Koplo mempersilakan para pembelinya untuk duduk di kursi yang biasanya telah ia siapkan di depan gerobaknya.
Tapi anehnya, para pembeli itu cuma mesam-mesem dan tidak mau duduk.
Tak lama kemudian, Jon Koplo yang sibuk memasak pun merasa perkewuh dan kembali meminta pembeli untuk duduk.
”Mari Pak, Bu, silakan duduk! Kursinya gratis kok he-he-he…!” tambah Koplo, maunya sih ndhagel.
Tapi, para pembeli tersebut tetap saja berdiri. Sekarang bukan cuma mesam-mesem tapi malah ngguya-ngguyu dan tetap tidak mau duduk.
Merasa ada yang tidak beres, Koplo pun menghentikan sejenak kegiatan memasaknya dan menuju ke depan gerobak untuk mendekatkan kursi-kursi pada para pembeli.
Tapi apa yang terkadi Saudara-saudara? Alangkah terkejutnya Jon Koplo ketika tahu bahwa belum ada satu pun kursi di depan gerobaknya!
Ternyata, karena saking kesusu-nya, ia lupa mengeluarkan kursi-kursinya dari dalam gerobak.
Dengan wajah abang ireng, Jon Koplo age-age mengeluarkan kursi-kursinya.
Kontan saja suasana jadi gerrr saknalika. Sementara itu, Jon Koplo hanya bisa plenthas-plenthus kisinan dan berharap agar masakannya cepat matang. – Kiriman Sugeng Pratama, SMK Kesatriyan, Jl Raya Solo-Kartasura, Sukoharjo.

Posted in Jon Koplo Soloraya | Leave a Comment »

Copet kepepet

Posted by d3nba6u53 pada April 2, 2008

 
  Lady Cempluk adalah seorang karyawan sebuah instansi swasta di Solo. Karena keadaannya kepepet, setiap hari ia harus rela pergi dan pulang kantor naik bus kota yang penuh sesak dan empet-empetan dengan penumpang lain.
Maka tak heran kalau Cempluk jadi hapal dengan tampang-tampang copet yang sering dijumpainya. Bahkan ia sering geram ketika melihat pencopet tersebut mendapat mangsa. Saking geregetannya, Cempluk pun berinisiatif mengerjai sang pencopet.
Pagi itu Cempluk sudah siap dengan tas kerjanya. Cempluk pun naik bus yang telah menjadi langganannya dan sengaja memilih berdesak-desakan di bagian belakang karena copetnya sering mencari mangsa di belakang.
Dugaan Cempluk benar, seorang pencopet, sebut saja Jon Koplo, naik bus dan ikut suk-sukan di belakang. Tak lama kemudian, sang copet pun tergoda dengan tas yang dibawa Cempluk dan berusaha menggerayanginya.
Cempluk yang merasa digerayangi tasnya pura-pura cuek saja. Akhirnya sebuah HP pun berpindah dari dalam tas Cempluk ke tangan Jon Koplo. Dengan sigapnya Koplo langsung mengantongi HP tersebut dan bergerak ke depan meninggalkan Cempluk.
Tapi baru beberapa langkah ia maju, terdengar suara yang sangat keras seperti HP mainan dari kantong Koplo.
Rupanya ketika berdesak-desakan itulah salah satu tombol HP yang dikantonginya kepencet dan mengeluarkan bunyi yang keras dan lama berhentinya. Kontan saja Koplo kaget dan mbingungi. Seisi bus pun berusaha mencari sumber suara dan langsung menatap ke arah Koplo.
Karena kepepet tak bisa apa-apa, akhirnya Jon Koplo langsung turun dari bus. Sementara Lady Cempluk tertawa karena sukses mengerjai copet itu dengan memasukkan HP mainan dalam tasnya. – Kiriman Yunus Puratmoko, Tempel Rejo RT 09/RW 02, Batan, Banyudono, Boyolali.

Posted in Jon Koplo Soloraya | Leave a Comment »