No Title

Tanpa Judul

Archive for the ‘Prie GS’ Category

Bekerja itu Sakit

Posted by d3nba6u53 pada Juli 23, 2010

Bekerja itu menyakitkan.  Pertama karena kebosanan, kedua karena ia tak berkesudahan. Dua puluhan terakhir ini pekerjaan saya hanya dua saja: mengetik dan ceramah. Dua soal yang saya sukai , yang keduanya malah pernah saya cita-citakan, ketika hari ini benar-benar dikabulkan, mestinya membuat saya meledak oleh kegembiraan. Tapi nyatanya tidak, tepatnya, tidak selalu. Ada kalanya, komputer itu malah saya bayangkan sebagai perampok waktu-waktu terbaik saya.  Saya jadi kehilangan kesempatan bersama anak-anak, tepat ketika mereka membutuhkan. Ada kalanya panggung-panggung  ceramah itu seperti pengadilan tempat saya harus berkelit agar terbebas dari segala macam tuduhan.
Dari mana asalnya perasaan benci bahkan kepada pekerjaan yang kita sukai sekalipun ini? Dari rutinitas. Ketika segalanya telah menjadi rutin, yang tersisa hanyalah kebosanan kita kepada soal-soal yang selalu sama itu. Wajah-wajah yang sama, target-target yang sama dan suasana yang sama. Itulah kenapa harus  lahir keluhan ‘’I hate Monday,’’ itu. Karena setiap Senin, wajah yang sama itu kembali menampakkan diri.

Tetapi kehadiran Senin yang kita benci itu ternyata adalah jalan untuk menuju Jumat. Dan kepada jumat, kita terbiasa memekik: ‘’Thanks God, Its Friday!’’. Lalu mungkinkan kita memekik gembira kepada Jumat tanpa melewati kebencian kita kepada Senin. Mustahil. Jadi setiap jalan cinta itu sesungguhnya harus melewati jalan benci. Maka inilah saatnya mencintai benci karena hanya dengan melewatinya, kita akan ketemu cinta.

Bekerja memang menyakitkan, apalagi di tengah rasa bosan dan ujung yang tak pernah berkesudahan. Tulisan ini rampung, tulisan di depan sudah menanti. Belum usai dari lelah ceramah ini, esok harus ceramah itu lagi. Pekerjaan lalu menyrupai gelombang yang selalu bergulung-gulung  tanpa ujung. Dan inilah watak gelombang, semakin dilawan, gelombang itu akan  semakin mengancam. Jika arusnya kita tentang, seluruhnya dari kita cuma akan ditelan. Watak inilah yang amat dipahami oleh para peselancar. Dan ketika watak itu  sudah didamaikan, inilah  anehnya, peselancar yang kuat, malah membutuhkan gelombang yang lebih besar dan penuh gempuran. Kegembiraan mereka tergantung pada besarnya gempuran.

Jadi setiap pekerjaan itu menggempur kita, kepadanya kita diperintahkan untuk berselancar  menikmati sensasinya. Barulah terasa bahwa soal yang sebenar-benarnya rutin itu tidak ada. Setiap gelombang yang sama, selalu memuat unsur-unsur yang berbeda. Setiap air yang mengalir di sungai yang sama, selalu saja adalah air yang berbeda. Jalan yang kita lewati dari rumah ke kantor, mungkin tampak itu-itu saja. Tetapi ia adalah jalan  dengan kemungkinan yang berbeda. Kemarin tak ada mobil yang gembos di situ, sekarang ada. Dan si gembos itu adalah teman yang kita harus menolongnya. Karena si gembos terkesan  lalu kepada Anda datang tawaran yang mengubah hidup Anda selamanya.

Di kantor, kita selalu saja ketemu dengan orang-orang yang sama, tetapi sesungguhnya, ia adalah orang telah menjadi berbeda dibanding kemarin. Setidaknya usianya telah bertambah sehari. Jangan remehkan pertambahan usia ini. Jangan-jangan ia telah menjadi manusia yang lebih matang. Dari seorang yang kemarin menjengkelkan, hari ini,  ia bisa jadi telah bersiap menjadi teman terbaik Anda. Rasa sakit di balik rutinitas itu, ternyata cuma jalan menuju sehat. Maka sakitlah dengan gembira.

(Prie GS/bnol)

Iklan

Posted in Prie GS | Dengan kaitkata: , , , , , , | 2 Comments »

Kenangan Yang Tak Ingin Saya Kenang

Posted by d3nba6u53 pada November 25, 2008

Ada di dalam hidup ini kejadian yang tak ingin saya kenang karena seluruhnya cuma berisi soal yang memalukan. Saya amat gemar menulis surat cinta di zaman sekolah. Dan ketika surat-surat itu saya baca ulang bertahun kemudian, hasilnya adalah aib berpkepanjangan. Membayangkan surat-surat ini dibaca orang bisa membuat saya mati berdiri. Akhirnya gunungan surat itu saya sobek-sobek menjadi serpihan, saya bakar agar lenyap jadi asap. Sekarang baru saya sadari, betapa tidak perlu tindakan itu. Betapa ingin saya berani memungut kembali satu-persatu kenanagn itu, betapapun ia bikin malu. Karena hidup yang sekarang, pasti tidak disusun cuma berdasarkan kebenaran dan kemuliaan. Di antaranya, ia pasti disusun juga dengan kebodohan, aib dan kekeliruan.

Maka kedudukan aib dan kesalahan itu, sesungguhnya setara dengan kebenaran dan keberhasilan. Ia sama-sama menjadi batu penyangga hidup saya. Jadi ia tak perlu diruntuhkan. Maka di hari-hari ini, saya kembali asyik mengenang aib itu satu persatu, walau untuk itu saya harus memompa seluruh keberanian. Saya di hari ini, adalah saya yang bisa mengeluhkan gaya anak-anak sekolah yang naik motor setara orang kesurupan. Tapi di masa lalu, gaya itu pula yang saya peragakan. Malu rasanya naik motor pelan. Jika malam, lampu harus dimatikan biar tambah seram. Semakin gelap, semakin kencang, semakin bikin kaget orang, semakin girang perasaan. Jika menikung harus dengan kemiringan penuh. Malah jika belum nyebur got, rasanya belum seorang jagoan.

Di satu sisi, hidup saya sebenarnya sudah mulai berprestasi. Sejak SMA saya telah mulai bisa membiayai diri lewat honor kartun yang mulai ramai dimuat di media massa. Begitu menjadi mahasiswa pemula, saya sudah bisa membeli motor meskipun manula. Bangga sekali rasanya punya motor pertama, walau karena umurnya, ia mulai tak tahan cuaca, Jika hujan tiba, ngadat mesinnya. Tetapi prestasi di satu sisi ini, cuma kekeliruan di sisi yang lain. Sejak punya motor saya mulai dijauhi teman-teman karena dianggap lebih sibuk mengurus motor katimbang mengurus mereka. ‘’Ia tak pernah lagi mudah dicari di rumah,” kata teman yang kecewa. Mereka benar. Saya memang jadi jarang di rumah, karena harus ke bengkel melulu!

Tetapi apapun alasannya, prestasi itu, jika belum matang waktu, memang cuma seperti taplak meja. Jika ia ditarik kemari, ia akan bolong di sana. Motor tua itu saya jual untuk ganti yang baru. Lebih keren dan kencang lajunya. Ini prestasi lagi. Tetapi prestasi baru selalu diikuti oleh kesalahan yang baru, itulah anugerah yang saya sebut sebagai belum matang waktu itu. Bakat ngebut saya mendapat dukungaan penuh dari motor baru ini termasuk munculnya sikap lupa diri sebagai bakat baru. Meksipun belum punya SIM, tetapi ke manapun, saya berani pergi. Maka ketika suatu kali saya terjaring operasi, saya panik sekali sehingga memutuskan tindakan yang tak habis saya mengerti hingga di hari ini: yakni melarikand diri.

Tapi sekencang-kencang saya berlari, saya pasti bukan penjahat tangguh melainkan sekadar mahassiwa ingusan yang kurang tahu menakar diri. Maka cuma dalam satu sentakan gas, polisi yang mengejar itu telah berhasil mencengkeram krah saya. Tak ada pilihan lain kecuali berhenti. Polisi ini marah sekali. Tak ada lagi negosiasi apapun. Telak sudah dosa-dosa saya. Tanpa SIM, kabur pula. Motor itu ditahan dan saya harus pulang jalan kaki.

Apa perasaan saya waktu itu? Terhina dan merasa sangat terzalimi. Perasaan inilah yang ingin saya kenang, karena betapa berbahaya sebetulnya kerancuan berpikir ini. Padahal lihatlah daftar kesalahan saya itu: ngebut adalah kesalahan pertama, tanpa SIM adalah kesalahan kedua, kabur adalah kesalahan ketiga. Jadi sempurna. Beruntung cuma motor saya yang ditahan, bukan saya yang harus menghuni tahanan. Tetapi orang yang lagi beruntung inilah justru orang yang merasa dizalimi lalu menggunakan seluruh koneksi untuk membela diri. Kenangan buruk ini adalah pelajaran yang amat saya ingat betapa persoalan terbesar saya sebagai manusia yang paling pertama adalah kemampuan melihat kesalahan diri sendiri!

Oleh : Prie GS

Posted in Prie GS | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Barang-barang Di Rumahku

Posted by d3nba6u53 pada Oktober 29, 2008

Dari Kiai Gus Mus saya mendapat pelajaran meminum segelas air putih campur sesendok madu tepat ketika bangun tidur. Dari Morihei Ueshiba saya mendapat pelajaran tentang seni bergerak sambil sekaligus beremeditasi. Dari Maulana Gibran, anak saya yang masih kelas tiga SD, saya mendapat pelajaran gaya minum harus dengan cara duduk. Tiga ajaran itu saya gabungkan. Hasilnya, saya mendapatkan gaya minum yang berbeda, minum yang kenikmatanya tak pernah saya rasakan sebelumnya.

Gus Mus, selain kiai dan penyair adalah juga seorang tabib. Menurutnya, bahwa air adalah obat, bahwa madu adalah obat, bahwa ludah juga obat, langsung saya percayai tanpa harus saya teliti. Tetapi yang paling mendorong saya percaya adalah kedudukan Gus Mus sebagai pribadi mulia hati. Inilah pentingnya menjadi mulia, apa saja katanya, mudah dipatuhi.

Sementara Morehei Ueshiba pasti cuma saya kenal lewat buku karena dialah legenda penemu teknik aikido yang terkenal itu. Jika Steven Seagal yang baru Dan VII itu sudah demikian jagoan, maka saya membayangkan, betapa fantastis pencapaian orang itu. Konon ia adalah seroang kakek yang sanggup mengikuti laju peluru. Saya menonton videoanya berulang kali, di usainya yang renta, orang ini bisa membantingi lawan-lewannya yang besar dan muda itu, serupa orang menari. Benar-benar menari. Lembut sekali. Orang-orang yang dibanting itu mengaku, bahkan dalam keadaan terbanting pun, mereka cuma merasakan kejatuhan tetapi tanpa kesakitan. Itulah Aikido versi Morihei. Kosong, hampa. Ke manapun musuh pergi, aikido mengikuti. Bahkan kepada musuh pun enggan menyakiti. Mengalahkan munkin, tetapi menyakti tidak. Tidak ada yang buru-buru dalam diri Morihei karena setiap keruwetan akan terurai di hadapan ketenangan diri.

Sementara Gibran, anak saya itu, sekadar mendapat pelajaran dari guru agamanya yang amat ia patuhi. Maka di rumah, siapapun yang melanggar ‘’perintah agama’’ ini dihardiknya, termasuk bapaknya sendiri. Dari terpaksa lama-lama saya menikmati. Karena minum dengan cara duduk itu, apalagi dengan sambil menenangkan diri, sambil memandangi air yang begitu penting keduduknya di dalam hidup, ditambah membayangkan Gus Mus yang baik hati, dengan seolah-olah didampingi Moriehei yang mengajari saya ketenangan hati, dilengkapi dengan wajah anak-anak saya sendiri… waduh, suasana minum seperti itu, menjadi khusus sekali.

Setiap tegukan, adalah sebuah sensasi. Ketika ia merembas ke kerongkongan, langsung di kedalaman, saya seperti melihat air itu melaju dari hilir, berkelok-kelok, menuju hulu dan bernuara di kesegaran. Apakah saya telah menjadi ahli meditasi? Tidak. Ini sekadar hasil dari sebuah perhatian dan penghargaan. Jika kepada sesuatu kita berikan perhatian kita, ia akan muncul dengan harganya yang berbeda. Sekian lama saya makan, tetapi jarang sekali saya memberinya perhatian. Sekian lama saya minum, tetapi jarang sekali kepadanya saya memberi penghargaan. Maka makan dan minum saya selama ini, berlangsung garing karena miskin tegur sapa.

Kita adalalah orang-orang yang terancam lupa pada soal yang begitu pentingnya justru karena ia terletak begitu dekatnya. Padahal semakin penting segala sesuatu, semakin dekat kita kepadanya. Padahal semakin dekat kita kepadanya, semakin mudah kita melupaknnya. Itulah kenapa ada suami-sitri yang tak perlu lagi saling memuji karena merasa telah begitu akrapnya. Itulah kenapa kepada anak-anak, kita lupa memeluknya karena merasa sudah mencintainya. Inilah kenapa (seperti sajak Darmanto Jatman) lidah, meskipun di dalam mulut, ia tak terasa.

Prie GS

Posted in Prie GS | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »