No Title

Tanpa Judul

Archive for Oktober, 2008

Hujan

Posted by d3nba6u53 pada Oktober 31, 2008

Tanggal 31 Oktober 2008,

Hujan mulai mengguyur tanah, aspal di sekitar tempat kerja…langit gelap..mendung tebal..hujan deras….kilat menyambar..semoga tidak sedang mencari mangsa hanya menunjukkan suara dan kekuatan-Nya yang luar biasa.
Pertunjukan ini bukan berarti sang Maha Pencipta (Alloh) sedang sombong memamerkan kekuatan-Nya yang serba maha, walaupun memang pantas untuk-Nya bila ingin sombong.

Mungkin saja Alloh sedang mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam menjalani kehidupan, selalu ingat pada-Nya, karena mungkin saja tiba-tiba ada bahaya yang sedang mengincar dan mungkin ingin berkenalan atau bercengkrama dengan kita, seperti sang kilat yang bisa saja dengan cepat menyambar diri kita.

Yah ..jam 8 malam, masih hujan…ehm dah pingin pulang ..so…..pake Jas Hujan…., sebenernya lagi males neh..apalagi ntar harus nyuci motor…
Btw, istri dirumah sedang menunggu….

Pulang ah….!Semoga Alloh melindungi kita semua

Sekian……..

d3nba6u53

Iklan

Posted in MyLife | Leave a Comment »

Posted by d3nba6u53 pada Oktober 31, 2008

dewa web domain hosting promo


Support System Marketing Online
Software Iklan Baris Massal
Free Web Hosting with Website Builder

Ultimate Stretcher

The On Demand Global Workforce - oDesk

 

Posted in Iklan | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Barang-barang Di Rumahku

Posted by d3nba6u53 pada Oktober 29, 2008

Dari Kiai Gus Mus saya mendapat pelajaran meminum segelas air putih campur sesendok madu tepat ketika bangun tidur. Dari Morihei Ueshiba saya mendapat pelajaran tentang seni bergerak sambil sekaligus beremeditasi. Dari Maulana Gibran, anak saya yang masih kelas tiga SD, saya mendapat pelajaran gaya minum harus dengan cara duduk. Tiga ajaran itu saya gabungkan. Hasilnya, saya mendapatkan gaya minum yang berbeda, minum yang kenikmatanya tak pernah saya rasakan sebelumnya.

Gus Mus, selain kiai dan penyair adalah juga seorang tabib. Menurutnya, bahwa air adalah obat, bahwa madu adalah obat, bahwa ludah juga obat, langsung saya percayai tanpa harus saya teliti. Tetapi yang paling mendorong saya percaya adalah kedudukan Gus Mus sebagai pribadi mulia hati. Inilah pentingnya menjadi mulia, apa saja katanya, mudah dipatuhi.

Sementara Morehei Ueshiba pasti cuma saya kenal lewat buku karena dialah legenda penemu teknik aikido yang terkenal itu. Jika Steven Seagal yang baru Dan VII itu sudah demikian jagoan, maka saya membayangkan, betapa fantastis pencapaian orang itu. Konon ia adalah seroang kakek yang sanggup mengikuti laju peluru. Saya menonton videoanya berulang kali, di usainya yang renta, orang ini bisa membantingi lawan-lewannya yang besar dan muda itu, serupa orang menari. Benar-benar menari. Lembut sekali. Orang-orang yang dibanting itu mengaku, bahkan dalam keadaan terbanting pun, mereka cuma merasakan kejatuhan tetapi tanpa kesakitan. Itulah Aikido versi Morihei. Kosong, hampa. Ke manapun musuh pergi, aikido mengikuti. Bahkan kepada musuh pun enggan menyakiti. Mengalahkan munkin, tetapi menyakti tidak. Tidak ada yang buru-buru dalam diri Morihei karena setiap keruwetan akan terurai di hadapan ketenangan diri.

Sementara Gibran, anak saya itu, sekadar mendapat pelajaran dari guru agamanya yang amat ia patuhi. Maka di rumah, siapapun yang melanggar ‘’perintah agama’’ ini dihardiknya, termasuk bapaknya sendiri. Dari terpaksa lama-lama saya menikmati. Karena minum dengan cara duduk itu, apalagi dengan sambil menenangkan diri, sambil memandangi air yang begitu penting keduduknya di dalam hidup, ditambah membayangkan Gus Mus yang baik hati, dengan seolah-olah didampingi Moriehei yang mengajari saya ketenangan hati, dilengkapi dengan wajah anak-anak saya sendiri… waduh, suasana minum seperti itu, menjadi khusus sekali.

Setiap tegukan, adalah sebuah sensasi. Ketika ia merembas ke kerongkongan, langsung di kedalaman, saya seperti melihat air itu melaju dari hilir, berkelok-kelok, menuju hulu dan bernuara di kesegaran. Apakah saya telah menjadi ahli meditasi? Tidak. Ini sekadar hasil dari sebuah perhatian dan penghargaan. Jika kepada sesuatu kita berikan perhatian kita, ia akan muncul dengan harganya yang berbeda. Sekian lama saya makan, tetapi jarang sekali saya memberinya perhatian. Sekian lama saya minum, tetapi jarang sekali kepadanya saya memberi penghargaan. Maka makan dan minum saya selama ini, berlangsung garing karena miskin tegur sapa.

Kita adalalah orang-orang yang terancam lupa pada soal yang begitu pentingnya justru karena ia terletak begitu dekatnya. Padahal semakin penting segala sesuatu, semakin dekat kita kepadanya. Padahal semakin dekat kita kepadanya, semakin mudah kita melupaknnya. Itulah kenapa ada suami-sitri yang tak perlu lagi saling memuji karena merasa telah begitu akrapnya. Itulah kenapa kepada anak-anak, kita lupa memeluknya karena merasa sudah mencintainya. Inilah kenapa (seperti sajak Darmanto Jatman) lidah, meskipun di dalam mulut, ia tak terasa.

Prie GS

Posted in Prie GS | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

PEMANCING CILIK

Posted by d3nba6u53 pada Oktober 29, 2008

PEMANCING CILIK

Pada tepian sebuah sungai, tampak seorang anak kecil sedang bersenang-senang. Ia bermain air yang bening di sana. Sesekali tangannya dicelupkan ke dalam sungai yang sejuk. Si anak terlihat sangat menikmati permainannya.

Selain asyik bermain, si anak juga sering memerhatikan seorang paman tua yang hampir setiap hari datang ke sungai untuk memancing. Setiap kali bermain di sungai, setiap kali pula ia selalu melihat sang paman asyik mengulurkan pancingnya. Kadang, tangkapannya hanya sedikit. Tetapi, tidak jarang juga ikan yang didapat banyak jumlahnya.

Suatu sore, saat sang paman bersiap-siap hendak pulang dengan ikan hasil tangkapan yang hampir memenuhi keranjangnya, si anak mencoba mendekat. Ia menyapa sang paman sambil tersenyum senang. Melihat si anak mendekatinya, sang paman menyapa duluan. “Hai Nak, kamu mau ikan? Pilih saja sesukamu dan ambillah beberapa ekor. Bawa pulang dan minta ibumu untuk memasaknya sebagai lauk makan malam nanti,” kata si paman ramah.

“Tidak, terima kasih Paman,” jawab si anak.

“Lo, paman perhatikan, kamu hampir setiap hari bermain di sini sambil melihat paman memancing. Sekarang ada ikan yang paman tawarkan kepadamu, kenapa engkau tolak?”

“Saya senang memerhatikan Paman memancing, karena saya ingin bisa memancing seperti Paman. Apakah Paman mau mengajari saya bagaimana caranya memancing?” tanya si anak penuh harap.

“Wah wah wah. Ternyata kamu anak yang pintar. Dengan belajar memancing engkau bisa mendapatkan ikan sebanyak yang kamu mau di sungai ini. Baiklah. Karena kamu tidak mau ikannya, paman beri kamu alat pancing ini. Besok kita mulai pelajaran memancingnya, ya?”

Keesokan harinya, si bocah dengan bersemangat kembali ke tepi sungai untuk belajar memancing bersama sang paman. Mereka memasang umpan, melempar tali kail ke sungai, menunggu dengan sabar, dan hup… kail pun tenggelam ke sungai dengan umpan yang menarik ikan-ikan untuk memakannya. Sesaat, umpan terlihat bergoyang-goyang didekati kerumunan ikan. Saat itulah, ketika ada ikan yang memakan umpan, sang paman dan anak tadi segera bergegas menarik tongkat kail dengan ikan hasil tangkapan berada diujungnya.

Begitu seterusnya. Setiap kali berhasil menarik ikan, mereka kemudian melemparkan kembali kail yang telah diberi umpan. Memasangnya kembali, melemparkan ke sungai, menunggu dimakan ikan, melepaskan mata kail dari mulut ikan, hingga sore hari tiba.

Ketika menjelang pulang, si anak yang menikmati hari memancingnya bersama sang paman bertanya, “Paman, belajar memancing ikan hanya begini saja atau masih ada jurus yang lain?”

Mendengar pertanyaan tersebut, sang paman tersenyum bijak. “Benar anakku, kegiatan memancing ya hanya begini saja. Yang perlu kamu latih adalah kesabaran dan ketekunan menjalaninya. Kemudian fokus pada tujuan dan konsentrasilah pada apa yang sedang kamu kerjakan. Belajar memancing sama dengan belajar di kehidupan ini, setiap hari mengulang hal yang sama. Tetapi tentunya yang diulang harus hal-hal yang baik. Sabar, tekun, fokus pada tujuan dan konsentrasi pada apa yang sedang kamu kerjakan, maka apa yang menjadi tujuanmu bisa tercapai.”

Pembaca yang budiman,

Sama seperti dalam kehidupan ini, sebenarnya untuk meraih kesuksesan kita tidak membutuhkan teori-teori yang rumit, semua sederhana saja, Sepanjang kita tahu apa yang kita mau, dan kemudian mampu memaksimalkan potensi yang kita miliki sebagai modal, terutama dengan menggali kelebihan dan mengasah bakat kita, maka kita akan bisa mencapai apa yang kita impikan dan cita-citakan. Apalagi, jika semua hal tersebut kita kerjakan dengan senang hati dan penuh kesungguhan.

Dengan mampu mematangkan kelebihan-kelebihan kita secara konsisten, maka sebenarnya kita sedang memupuk diri kita untuk menjadi ahli di bidang yang kita kuasai. Sehingga, dengan profesionalisme yang kita miliki, apa yang kita perjuangkan pasti akan membuahkan hasil yang paling memuaskan.

Salam sukses, luar biasa!!!
Andrie Wongso

Posted in Andrie Wongso | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »