Ditulis oleh d3nba6u53 di/pada April 4, 2008
Kalau ingin hidup tentram, pandailah merelatifkan setiap jenis keyakinan, kecuali keyakinan kepada Tuhan. Kalau jadi orang pandai, janganlah terlalu percaya kepada kepandaian sendiri. Kalau kaya kuatkan hati untuk meremehkan kekayaan tersebut.
Kalau jagoan, jagalah kepercayaan bahwa batas kejagoan sebenarnya dekat saja. Yang terpenting dipelihara adalah keyakinan tidak ada orang pandai, tidak adaorang kaya dan tidak ada jagoan. Artinya jati diri manusia tidak identik dengan topform-nya. Jati diri makhluk hidup justru adalah gelombang naik turun kemampuan atau siklus kekuatan dan kelemahan kepribadiannya.
Manusia adalah kelengkapan dan seluruhnya itu, esensinya di dalam kehidupan selalu berada dalam kemenangan sekaligus juga kekalahan. Semua bergantung padaruang dan waktu. Manusia bisa mengupayakan pengembangan diri untuk memenuhi rumus rasional agar menjadi pendekar.
Tetapi di depan sejumlah hal mereka bukanlah pendekar dan tak akan pernah sanggup menjadi pendekar. Itulah sebabnya sebaiknya yang utama harus hayatiadalah watak kehidupan dan manusia, watak dunia dan nasib, sekaligus ingat bahwa perjalanan zaman dan kehidupan kini sedang dalam komoditi licin. Ancaman terbesar bisa jadi tidak berasal dari manapun melainkan dari dalam sendiri.
Ditulis dalam Lives | Bertanda: hidup, kehidupan, manusia, Tuhan, watak | Leave a Comment »
Ditulis oleh d3nba6u53 di/pada April 4, 2008
Setelah satu bulan belajar membuat martabak dan terang bulan sama pakdenya, Tom Gembus, Jon Koplo yang tingal di Kartasura ini telah membuka usaha baru dengan berjualan martabak dan terang bulan sendiri di pinggir jalan raya tak jauh dari rumahnya.
Hari pertama Koplo jualan, pembeli yang datang cuma sedikit.
Begitu juga dengan hari kedua. Tapi Jon Koplo tetap gembira karena ia bisa melayani pembelinya dengan sukses.
Nah, di hari ketiga, pertanda baik mulai datang. Saat Jon Koplo baru datang dan belum selesai tata-tata peralatannya, ada tiga calon pembeli datang ke gerobaknya. Maka, Jon Koplo pun menghentikan tata-tata-nya dan memfokuskan diri ke pembuatan pesanan masing-masing pembeli itu.
”Mangga Pak, Bu, pinarak lenggah rumiyin!” ucap Jon Koplo mempersilakan para pembelinya untuk duduk di kursi yang biasanya telah ia siapkan di depan gerobaknya.
Tapi anehnya, para pembeli itu cuma mesam-mesem dan tidak mau duduk.
Tak lama kemudian, Jon Koplo yang sibuk memasak pun merasa perkewuh dan kembali meminta pembeli untuk duduk.
”Mari Pak, Bu, silakan duduk! Kursinya gratis kok he-he-he…!” tambah Koplo, maunya sih ndhagel.
Tapi, para pembeli tersebut tetap saja berdiri. Sekarang bukan cuma mesam-mesem tapi malah ngguya-ngguyu dan tetap tidak mau duduk.
Merasa ada yang tidak beres, Koplo pun menghentikan sejenak kegiatan memasaknya dan menuju ke depan gerobak untuk mendekatkan kursi-kursi pada para pembeli.
Tapi apa yang terkadi Saudara-saudara? Alangkah terkejutnya Jon Koplo ketika tahu bahwa belum ada satu pun kursi di depan gerobaknya!
Ternyata, karena saking kesusu-nya, ia lupa mengeluarkan kursi-kursinya dari dalam gerobak.
Dengan wajah abang ireng, Jon Koplo age-age mengeluarkan kursi-kursinya.
Kontan saja suasana jadi gerrr saknalika. Sementara itu, Jon Koplo hanya bisa plenthas-plenthus kisinan dan berharap agar masakannya cepat matang. – Kiriman Sugeng Pratama, SMK Kesatriyan, Jl Raya Solo-Kartasura, Sukoharjo.
Ditulis dalam Jon Koplo Soloraya | Leave a Comment »